Kisah Ketut Imaduddin Mendirikan Pondok Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan, Mengajarkan Toleransi Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Kisah Ketut Imaduddin Mendirikan Pondok Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan, Mengajarkan Toleransi, https://bali.tribunnews.com/2021/04/19/kisah-ketut-imaduddin-mendirikan-pondok-pesantren-bali-bina-insani-di-tabanan-mengajarkan-toleransi. Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi

https://bali.tribunnews.com/2021/04/19/kisah-ketut-imaduddin-mendirikan-pondok-pesantren-bali-bina-insani-di-tabanan-mengajarkan-toleransi

 

Kisah Ketut Imaduddin Mendirikan Pondok Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan, Mengajarkan Toleransi

Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Kisah Ketut Imaduddin Mendirikan Pondok Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan, Mengajarkan Toleransi, Ditemui pada acara tersebut, H. Ketut Imaduddin Jamal, mengaku dirinya adalah seorang warga yang berasal dari salah satu desa yang terkenal di Indonesia dengan akulturasi budaya antara Hindu dan Islam, yaitu Desa Pegayaman.

“Saya berasal dari desa terpencil, tapi cukup top di level nasional yaitu Desa Pegayaman. Mereka menilai bahwa desa itu unik, dengan tradisi keislaman dan kehinduannya, lalu hal tersebut menjadi akulturasi budaya”ucapnya.

Setelah mendirikan Pondok Pesantren di Desa Pegayaman, lalu ia merasa ingin mengembangkan Pondok Pesantren di wilayah sekitar Kerambitan, TabananBali.

Ia mengaku mendirikan Pondok Pesantren di Tabanan merupakan tantangan yang lebih berat.

Namun, Ia menyampaikan tantangan yang lebih berat tersebut membuat ia lebih bersemangat.

“Disini tantangannya lebih berat, sehingga saya lebih bersemangat, bukannya melemahkan saya, tantangan ini justru membuat saya lebih bersemangat, karena tanpa tantangan hidup ini akan hampa” ucapnya.

Lebih lanjut, ia juga membeberkan mengenai Pondok Pesantren Bali Bina Insani yang dinilai menarik oleh banyak orang.

 

Ia menjelaskan keunikan dari Ponpes yang ia dirikan tersebut adalah Ponpes yang ia dirikan berada di tengah-tengah masyarakat yang 100 persen beragama Hindu.

Ia juga menjelaskan, bahwa meskipun sekolah yang ia dirikan berbentuk pondok pesantren, tetapi sebagian guru di Ponpes ini beragama Hindu.

“Hampir 50:50, jika dipresentasikan mungkin agak turun, perbandingannya mungkin 60 persen guru Islam dan 40 persen guru yang beragama Hindu, disini mereka mengajar pada berbagai bidang,”ujarnya.

Ia juga menyampaikan, bahwa ia mempunyai Policy jika memang guru yang bersangkutan berprestasi, ia akan angkat menjadi Kepala Sekolah.

Bahkan saat ini Wakil Kepala Madarasah Aliyah (Sekolah Menengah Atas) dijabat oleh guru yang beragama Hindu.

Ia mengajarkan kepada para santrinya untuk tidak membedakan agama guru yang ada di Pondok Pesantren Bali Bina Insani.

Ia mengatakan, kepada para santri yang ada di Pondok Pesantren Bali Bina Insani, “Ananda tidak usah membedakan guru Islamkah atau guru Hindukah, mereka semua sumber Ilmu, kalian (para santri) penuntut ilmu dan mereka pemberi ilmu, maka samakan pengohormatan kalian. Tidak barokah ilmu kalian kalau tidak hormat kepada guru agama hindu” ucapnya.

 

Selanjutnya, ia juga menyampaikan bahwa di Pondok Pesantren Bali Bina Insani, dalam kurikulumnya mengajarkan Kitab Ta’lîm al-Muta’allim dan At-Targhib wat-Tarhib dengan pengantar bahasa bahasa Bali.

“Saya ingin santri sini, tidak tercabut dari Budaya Bali, kenapa budaya Bali? Karena mereka menutut ilmu di Bali, nama Pondoknya adalah Bali Bina Insani, Tolerance Boarding school, nama Kebalian itu harus melekat di santri yang ada disini, untuk berbuat baik di lingkungan sekitar, salah satu caranya adalah mengerti kearifan lokal, mengerti budaya bali dan sebagainya, dan bahasa adalah salah satu budaya yang harus dikuasai ” paparnya.

Ditanya perihal kenapa Pondok Pesantren Bali Bina Insani mempunyai nama tambahan yaitu, Tolerance Boarding School, ia menceritakan bahwa nama tersebut merupakan pemberian dari Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.

Menteri Luar Negeri tersebut memberikan nama Tolerance Boarding School untuk penghormatan pada Pondok Pesantren Bali Bina Insani setelah kunjungan beberapa Negara Bali Democracy Forum beberapa tahun lalu.

Pendiri Pondok Pesantren tersebut menceritakan “Bu Retno waktu itu, melihat bahwa kehidupan pluralisme dan toleransi di Pondok Pesantren Bali Bina Insani berjalan dengan baik”

Ia juga bercerita, pada kunjungan tersebut, salah satu yang memberikan sambutan adalah Wakil Kepala Sekolah yang beragama Hindu yang ia sebutkan sebelumnya.

Pada acara yang sama, ia ditanya perihal kenapa kehidupan di Pondok Pesantren Bali Bina Insani berjalan damai, ia selalu menjawab dengan memberikan pengandaian.

“Taman yang indah itu adalah taman yang tidak diisi oleh satu jenis bunga, taman yang mempunyai aneka bunga, barulah bisa disebut taman bunga yang indah, begitu juga dengan pelangi, tidak akan disebut pelangi yang indah jika warnanya kuning semua” jelasnya

Ia menambahkan, jika kita mengedepankan perbedaan, maka tidak akan pernah mencapai keharmonian, yang muncul hanya akan perbedaan, sebaliknya ia mengatakan “Ketika kita mengedepankan persamaan, maka yang akan muncul adalah indah, sama, seiya-sekata, seperjuangan,

“Perbedaan merupakan settingan dari Allah, Allah ciptakan laki-laki perempuan, hitam putih, berbangsa-bangsa, agar makhluknya saling kenal mengenal” ujarnya.

Di Pondok Pesantren Bali Bina Insani, toleransi bukan hanya diajarkan secara lisan, namun nilai-nilai toleransi diajarkan langsung dalam praktik sehari-hari.

Ia mencontohkan, jika para santri berada di pintu gerbang, ia mengajarkan kepada santrinya untuk menyapa dengan bahasa Bali seperti “Pak, ngiring simpang dumun” “simpang dumun jebos meriki, kanggeang wenten jajen wenten kupi”

Hal-hal kecil seperti itu menurut dirinya merupakan nilai-nilai toleransi yang terus di jaga di Pondok Pesantren Bali Bina Insani, Yayasan La Royba.(*).

https://bali.tribunnews.com/2021/04/19/kisah-ketut-imaduddin-mendirikan-pondok-pesantren-bali-bina-insani-di-tabanan-mengajarkan-toleransi.
Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi