GURU NON MUSLIM MENGAJAR DI PESANTREN (Strategi Menjaga Harmoni dalam Keberagaman Melalui Praktik Toleransi di Pesantren Bali Bina Insani)

By; Muhammad Fahmi (Dosen PAI FTK UIN Sunan Ampel)
Alamat Rumah: Kalirejo Barat 37 Dukun Gresik 61155
Email: fahme_yes@yahoo.com; Hp.: 081331251221

Abstrak:
Tulisan ini telah mengkaji potret pendidikan di pesantren Bali Bina Insani dan faktor yang melatari keberadaan guru-guru non-Muslim (Hindu) di pesantren tersebut. Kajian ini merupakan hasil penelitian deskriptif kualitatif dengan setting lokasi salah satu pesantren di Kabupaten Tabanan Bali, yakni Bali Bina Insani. Metode pengumpulan datanya dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk analisis data digunakan teknik analisis induktif-kualitatif. Hasil kajian menunjukkan: Dari uraian di atas, setidaknya dapat disimpulkan dua hal penting. Pertama, Pesantren Bali Bina Insani termasuk tipe pesantren kombinasi atau campuran (sistem salaf dan modern), karena di dalamnya diberikan pembelajaran materi kitab klasik (kuning) dan juga diberlakukan sstem klasikal dengan materi yang sejalan dengan kurikulum nasional. Praktik pembelajaran di Pesantren Bali Bina Insani tidak jauh berbeda dengan praktik pembelajaran di pesantren pada umumnya. Akan tetapi ada ciri khas yang unik di pesantren ini, yakni praktik pluralisme dan toleransi yang riil di dalam pesantren. Dimana pesantren ini memiliki beberapa guru yang beragama Hindu. Kedua, praktik pluralisme dan toleransi dengan merekrut guru-guru Hindu dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi masyarakat sekitar pesantren yang mayoritas beragama Hindu. Agar masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Hindu tidak resisten, maka Pesantren Bali Bina Insani mengakomodir keberadaan guru-guru yang beragama Hindu. Bagaimanapun, ini merupakan strategi yang dilakukan oleh Pesantren dalam memelihara keharmonisan dalam keberagaman dan hubungan antar umat beragama (Hindu-Muslim) di daerah sekitar pesantren.

Kata Kunci: Bali Bina Insani, Guru Non-Muslim, dan Harmoni dalam Keberagaman.

A. Pendahuluan
Kemajemukan dan keberagaman di Indonesia, pada satu sisi merupakan kekuatan sosial dan nilai yang indah apabila satu sama lain bersinergi dan saling bekerja sama untuk membangun bangsa. Namun, pada sisi lain, kemajemukan tersebut apabila tidak dikelola dan dibina dengan tepat dan baik akan menjadi pemicu dan penyulut konflik, dan dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa. Peristiwa Ambon dan Poso, misalnya, merupakan contoh kekerasan dan konflik horizontal yang telah menguras energi dan merugikan tidak saja jiwa dan materi tetapi juga mengorbankan keharmonisan antar sesama masyarakat Indonesia.
Bahkan peristiwa yang baru saja terjadi, adanya pembakaran masjid di Tolikara, Papua, ditengarai karena adanya peraturan daerah (perda) yang tidak mengakomodasi kebebasan beragama. Meski keberadaan perda tersebut masih pro-kontra, namun telah menjadi dasar untuk membuat surat edaran larangan lebaran dan pemakaian jilbab oleh Persatuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injil Indonesia (PGLII). Hal itu yang kemudian memicu konflik antar umat beragama (Kristen-Islam) dan berujung pada pembakaran salah satu masjid di tempat tersebut. Memang tidak fair, ketika di suatu daerah umat Islam mayoritas dan umat non-Islam minoritas, harmoni antar umat beragama bisa diwujudkan. Akan tetapi sebaliknya, ketika di suatu daerah umat Islam minoritas dan umat non-Islam mayoritas, sering terjadi konflik antar umat beragama. Ini indikasi bahwa umat Islam memang cenderung toleran, sementara umat lain cenderung intoleran.
Semenjak reformasi digulirkan, diskursus pluralisme di negeri ini terus mengemuka dan berkembang pesat. Terkait dengan masalah tersebut sikap hidup toleran menjadi penting. Toleransi dipandang bisa menjadi perekat baru integrasi bangsa yang sekian lama tercabik-cabik. Toleransi dianggap sebagai sebuah ajaran yang produktif apabila dilihat dari kacamata integrasi nasional suatu bangsa besar yang isinya beraneka ragam suku bangsa, etnis, agama, dan status sosial.
Terkait dengan praktik toleransi, terdapat institusi pesantren yang ada di Tabanan Bali, yang sangat kental dengan ajaran dan praktik toleransi. Pesantren yang dimaksud adalah Pesantren Bali Bina Insani, yang memiliki SDM guru-guru non-Muslim (beragama Hindu) sebagai bagian dari pengajar di pesantren. Pesantren merupakan jenis institusi pendidikan Islam tertua dan telah lama berakar di dalam budaya masyarakat Indonesia. Pesantren merupakan pusat pengkajian dan pendalaman khazanah ilmu-ilmu keislaman dan sekaligus sebagai pusat gerakan dakwah penyebaran agama Islam di masyarakat. Pesantren juga dikenal sebagai penjaga ortodoksi Islam. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik, tidak saja karena keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena kultur, metode, dan jaringan yang diterapkan oleh lembaga agama tersebut. Selain itu pondok pesantren juga sebagai sistem pendidikan yang asli (indegenious) di Indonesia.
Kajian ini berhasil memahami dua hal penting. Pertama, potret pendidikan di pesantren Bali Bina Insani yang memiliki guru-guru non-Muslim (Hindu) sebagai bagian dari pengajar di pesantren. Kedua, faktor yang melatari keberadaan guru-guru non-Muslim (Hindu) sebagai bagian dari pengajar di pesantrennya. Kajian penelitian ini telah menghasilkan sesuatu yang penting dan signifikan. Tidak hanya pengetahuan deskriptif dan fenomenologis, tetapi memberikan kontribusi akademis berupa peningkatan pengetahuan perilaku inklusif, demokratis, dan toleran yang dilakukan pesantren. Di samping itu, penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi upaya-upaya untuk melakukan praktik keagamaan yang inklusif, demokratis, dan toleran di lembaga pendidikan pesantren.

B. Deskriptif Teoritik
1. Signifikansi Pesantren
Pesantren di Indonesia berdiri sejak abad ke-16 M. Hal ini ditandai dengan adanya praktik pengajaran macam-macam kitab kalsik dalam bidang teologi dan tasawuf. Eksistensi pesantren dengan segala keunikan dan keragamannya sebenarnya merupakan penopang utama sistem pendidikan di Indonesia. Keaslian dan kekhasan pesantren disamping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa Indonesia juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral.
Sistem yang diterapkan di pesantren lebih diarahkan pada dimensi ubudiyah (religius oriented). Mengingat, secara umum pesantren didirikan dengan beberapa tujuan, antara lain: a. Menyiapkan santri untuk mendalami dan menguasai pendidikan agama Islam (tafaqquh fi al-din al-Islam); b. Berdakwah menyebarkan agama Islam, dan 3. Menjadi benteng pertahanan umat dalam bidang akhlak.
Hadirnya pesantren setidaknya didorong oleh dua hal. Pertama, sebagai respon terhadap gejala sosial yang berkembang di tempat dan waktu tertentu. Dalam hal ini, munculnya pesantren bukan saja di tempat-tempat yang suasana keagamaannya sudah kelihatan kuat, tetapi dalam banyak kasus justru lahir di daerah yang kehidupan agamanya lemah. Kedua, pesantren tumbuh didorong oleh suasana kultural yang mengelilinginya. Bahwa putra-putri Kyai pada umumnya dididik di pesantren, walaupun tidak mesti dididik di pesantren orang tuanya sendiri. Putra-putri Kyai yang berpendidikan pesantren ini, sudah tentu pilihan-pilihan karirnya yang lebih mudah dikembangkan adalah mendirikan pesantren.
Dalam perjalanan berikutnya, perkembangan pendidikan pesantren ke sistem madrasah secara berangsur-angsur muncul ke permukaan terutama sejak terjadinya pergantian zaman dari abad ke-19 menuju abad ke-20. Dengan sistem klasikal, pendidikan madrasah diperkenalkan di dalam pesantren. Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam non formal, sedangkan madrasah sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam formal.
Dalam batas-batas tertentu madrasah merupakan lembaga persekolahan ala belanda yang diberi nuansa keagamaan. Hal itu dilatarbelakangi oleh pesatnya sekolah-sekolah belanda yang menganut sistem Barat, dan berpengaruh bagi pesantren untuk mendirikan madrasah, walaupun sebenarnya sistem pendidikan madrasah sudah diterapkan dalam dunia Islam sejak sekitar abad ke-9 dan ke-10 M. di dunia Islam Timur Tengah. Pesantren yang berupaya untuk mengembangkan kelembagaan madrasah, mau tidak mau menuntut Kyainya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan, baik yang datang dari pemerintah maupun persyaratan teknis yang lainnya sebagai konsekuensi diterimanya sistem baru akibat kebijakan pemerintah.
Persoalan pelik yang sulit terselesaikan secara tuntas bagi pesantren yang membuka madrasah atau sekolah adalah mengenai sumber dana yang terbatas. Sumber dana lembaga pendidikan yang diselenggarakan Kyai di pesantren atau madrasah umumnya diperoleh selain dari hasil iuran para santri juga bersumber dari warga masyarakat. Kharisma Kyai amat penting untuk menghimpun dana maupun tenaga guna membangun madrasah, sekolah atau memperluas bangunan pesantren.
Kyai yang berpengaruh dan memiliki kharisma tinggi cukup menjadi modal awal untuk penggalangan dana pembangunan pesantren atau madrasah. Para pengikut atau jamaah biasanya datang bergantian untuk menyumbangkan harta atau tenaganya. Gotong-royong seperti ini sangat mungkin dilakukan oleh masyarakat yang berkultur agraris. Sampai sekitar akhir abad ke-19 M, pesantren merupakan satu-satunya sistem pendidikan Islam di Indonesia, baru kira-kira awal abad ke-20 M sistem pendidikan Islam mengalami perubahan searah dengan kecenderungan modernisasi.
Pada masa kemerdekaan, proses modernisasi sistem pendidikan Islam terus berlangsung sejalan dengan modernisasi sistem pendidikan nasional. Pada masa ini dunia pesantren mulai mengikuti arus modernisasi. Sejak masa itu dunia pesantren yang selama ini sarat dengan hubungan primordial dan sentimental sebagai basis keterikatan hidup dalam jama’ah keagamaan berubah ke arah hubungan rasional-fungsional. Bersamaan dengan runtuhnya basis ekonomi agraris dunia pesantren, terjadi migrasi para santri dan orang-orang desa ke kawasan perkotaan untuk berebut posisi dalam sistem pendidikan modern.

2. Definisi Pesantren
Secara etimologis, pesantren (pondok pesantren) berasal dari dua kata ”pondok” dan ”pesantren”. Pondok berarti asrama-asrama para santri yang dibuat dari bambu; atau berasal dari kata Arab funduq, yang berarti hotel atau asrama. Menurut Nurcholis Madjid pesantren berakar pada kata ”santri” yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti melek huruf.
Hal di atas didasarkan pada fakta sosial bahwa pesantren sebagai kelas literacy (melek huruf), yaitu lembaga atau asrama yang terdiri dari orang-orang yang berusaha mendalami kitab-kitab yang bertuliskan bahasa Arab. Dalam versi lain diungkapkan, bahwa pesantren berasal dari kata dasar ”santri” yang diimbuhi awalan ”pe” dan akhiran ”an”. Dalam bahasa Jawa, santri sering disebut dengan cantrik yang berarti orang yang selalu mengikuti sang guru kemanapun sang guru pergi.
Secara terminologis, pesantren merupakan institusi sosial keagamaan yang menjadi wahana pendidikan bagi umat Islam yang ingin mendalami ilmu-ilmu keagamaan. Pondok pesantren dalam terminologi keagamaan merupakan institusi pendidikan Islam. Meski demikian pondok pesantren mempunyai icon sosial yang memiliki pranata sosial di masyarakat. Hal ini karena pondok pesantren memiliki modalitas sosial yang khas, yaitu: 1. Ketokohan sang Kyai, 2. Para santri, 3. Independensi dan kemandirian, 4. Jaringan sosial yang kuat antar alumni pondok pesantren.
Subjek pesantren adalah Kyai dan santri (dimana para santri berada di bawah bimbingan para Kyai). Istilah ”santri” dalam khazanah kehidupan bangsa Indonesia umumnya dan khususnya umat Islam mempunyai dua makna. Pertama, menunjuk pada sekelompok peserta sebuah pendidikan pesantren atau pondok. Kedua, menunjuk pada akar budaya sekelompok pemeluk Islam.
Komunitas santri sebagai golongan, merupakan golongan minoritas umat Islam di tengah mayoritas pemeluk Islam, tapi dalam berbagai kesempatan mereka mencerminkan kecenderungan perilaku sekitar 140 juta lebih pemeluk Islam di Indonesia, khususnya di bidang politik. Jika semula status mereka di tengah komunitas Muslim dan masyarakat Indonesia ditentukan oleh posisi ekonomi dan latar belakang pendidikannya, pada perkembangan berikutnya, golongan ini mengalami banyak perubahan baik di bidang ekonomi, pendidikan maupun politik.
Masyarakat santri memiliki tradisi keagamaan yang berfungsi amat efektif sebagai media komunikasi. Tradisi seperti tahlilan bersama, tarekat, khatmil quran hingga yang bersifat insidental seperti pengajian pada hari-hari besar Islam sangat memungkinkan digunakan sebagai sarana komunikasi yang efektif, termasuk komunikasi di bidang sosial keagamaan, budaya, pendidikan, ekonomi, dan politik.

3. Tipologi Pesantren
Pesantren yang berkembang di Indonesia mempunyai beberapa tipe –antara lain- sebagai berikut. Pertama, Pesantren Tradisional. Pesantren ini masih memper¬ta¬han¬kan bentuk aslinya dengan mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke-15 M dengan menggunakan bahasa Arab. Pola pengajarannya dilakukan dengan mene¬rap¬kan sistem halaqah. Hakikat dari sistem pengajaran halaqah adalah penghafalan yang titik akhirnya dari segi metodologi cenderung pada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Kurikulum keilmuan sepenuh¬nya tergantung pada para Kyai pengasuh pesantren tersebut.
Kedua, Pesantren Modern. Sistem pembelajaran pada pesantren ini menggunakan kelas-kelas belajar dalam bentuk klasikal. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap dan ada pula yang tersebar di sekitar pondok pesantren. Pada pesantren jenis ini, para Kyai berkedudukan menjadi koordinator pelaksana proses pembelajaran dan sebagai pengajar langsung di kelas. Perbedaan dengan madrasah dan sekolah pada umumnya terletak pada proses pendidikan agama dan bahasa Arab (dan terkadang bahasa Inggris) yang lebih ditonjolkan sebagai kurikulum lokal.
Ketiga, Pesantren Konvergensi. Pada jenis ini, pesantren merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan yang modern. Di dalamnya diterapkan pendidikan dan pembelajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan wetonan; namun secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan keterampilan pun diaplikasikan sehingga menjadikan jenis pesantren ini berbeda dari jenis kesatu dan kedua.
Keempat, Pesantren Mahasiswa. Pesantren jenis ini merupakan asrama-asrama yang santri-santrinya berasal dari komunitas mahasiswa. Para pengasuhnya biasanya berasal dari kalangan dosen yang tugas kesehariannya di perguruan tinggi yang berlokasi di sekitar pesantren. Meski para santrinya berasal dari komunitas mahasiswa, namun biasanya tetap diberikan materi pelajaran kitab kuning oleh pengasuh pesantren pada jam-jam yang telah ditentukan. Pembelajaran bahasa (Arab dan Inggris) terkadang diintensifkan dalam pesantren ini. Di kawasan Wonocolo Surabaya (sekitar UIN Sunan Ampel), terdapat beberapa pesantren mahasiswa, misalnya: pesantren An-Nur, An-Nuriyah, Al-Jihad, Al-Khusna, Darul Arqom, Darul Khafidzin, dan Pesantren Mahasiswa di dalam kampus UIN Sunan Ampel.
Pada perkembangan selanjutnya, seiring dengan tuntutan perkembangan zaman dan arus globalisasi yang melahirkan tuntutan profesionalisme dalam pengembangan sumberdaya manusia (SDM) yang bermutu, maka manajemen lembaga pendidikan termasuk pengelolaan pesantren membutuhkan pengelolaan secara profesional. Pesantren dituntut untuk meningkatkan profesionalitas; baik pesantren yang menerapkan sistem tradisional, modern, konvergensi, atau pesantren mahasiswa.
Kelebihan yang diperoleh dari belajar pada sistem pendidikan pesantren plus madrasah / sekolah adalah disamping mendapatkan ilmu-ilmu agama melalui eksplorasi khazanah Islam klasik, seperti, kajian kitab kuning, juga mendapatkan ilmu-ilmu umum (science) dalam teknologi terapan, sehingga santri menjadi lebih terintegrasi dalam segi keilmuan dan perbuatan. Misalnya, dalam sistem pendidikan madrasah di pesantren, dibuka Jurusan IPS, IPA, Bahasa. Banyak juga pesantren yang karena SDM-nya dirasa mencukupi dan karena tuntutan kebutuhan masyarakat, akhirnya membuka perguruan tinggi.

4. Kehidupan di Pesantren
Pesantren memang selalu unik, menarik dan mendapat perhatian orang. Tidak hanya karena model pendidikan yang dikembangkannya, tetapi juga perilaku kehidupan masyarakat di dalamnya. Abdurahman Wahid (Gus Dur) menyebut pesantren sebagai sub-kultur masyarakat Indonesia. Keunikan dan kekhasan pesantren ditunjukkan juga oleh kemampuan survival atau bertahannya dari berbagai arus modernisasi yang melanda di segala bidang kehidupan.
Pesantren tetap menjadi bagian penting dalam geliat pendidikan keagamaan di Indonesia. Tidak hanya itu, pesantren juga –dalam catatan sejarahnya- sanggup memberikan warna bagi sejarah perubahan sosial di negeri ini. Kehidupan dalam pesantren selalu menggambarkan kehidupan masyarakat yang damai; masyarakat yang selalu hidup berlandaskan moral keagamaan yang menghargai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.
Di dalam pesantren terdapat berbagai unsur yang kemudian membentuk komponen pesantren, antara lain: Kyai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Menurut Zamakhsyari Dhofier kelima unsur itu menjadi elemen dasar dari tradisi pesantren. Kelima elemen tersebut memiliki fungsi yang berbeda, dimana Kyai ditempatkan pada posisi sentral dalam komunitas pesantren, disamping sebagai pemilik, pengelola dan pengajar kitab kuning, dia juga merangkap sebagai imam (pemimpin) pada acara-acara ritual keagamaan, seperti: shalat berjamaah, wiridan, dan sebagainya.
Sementara itu unsur-unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider yang keberadaannya di bawah kontrol dan pengawasan Kyai. Itulah sebabnya, pesantren secara umum memiliki lima elemen dasar. Oleh karenanya, kelompok pengajian pun akhirnya dapat berkembang menjadi institusi pesantren tatkala memiliki prasyarat informal lima elemen tersebut.
Melalui konstruksi dan relasi kelima elemen di atas, akhirnya pesantren menciptakan dan membentuk perilaku sosial kebudayaan yang –biasanya- berbeda dengan masyarakat lainnya di luar pesantren. Perilaku sosial kebudayaan tersebut
terbentuk dari –tidak hanya- pada karakteristik fisik pesantren, melainkan juga ranah perilaku kebudayaan dari komunitas pesantren. Dalam konteks demikian, pesantren oleh Gus Dur kemudian dianggap sebagai sebuah subkultur dalam kultur masyarakat yang lebih luas.
Dalam pandangan Gus Dur, unsur-unsur yang membentuk pesantren tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan dalam membentuk perilaku sosial budaya santri. Peranan Kyai dan santri dalam menjaga tradisi keagamaan akhirnya membentuk sebuah subkultur pesantren, yaitu suatu gerakan sosial budaya yang dilakukan komunitas santri dengan karakter keagamaan dalam kurun waktu relatif panjang. Pola kebudayaan yang terbentuk tercipta sebagai sebuah kebiasaan atau tradisi yang muncul sebagai implikasi logis dari pola relasi dan fungsionalisme yang terjalin dalam komunitas pesantren.
Pola pembentukan pesantren sebagai subkultur tersebut dapat dianalisis melalui fungsionalisasi dari kelima elemen dasar pembentuknya. Pertama, pondok / asrama sebagai asrama pendidikan Islam dimana para santrinya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan satu orang atau lebih pendidik yang kemudian secara umum disebut sebagai Kyai. Asrama untuk para santri biasanya berada dalam lingkungan dimana Kyai bertempat tinggal. Asrama tersebut berada dalam satu kompleks di lingkungan pesantren. Pola asrama inilah yang menjadi keunikan pesantren dibandingkan dengan sistem pendidikan tradisional di negara lain, bahkan juga di daerah lain. Dalam banyak hal, sistem pendidikan tradisional dalam Islam biasanya berkembang dan dikembangkan dari masjid ke masjid.
Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa pesantren harus menyediakan asrama bagi para santri, yaitu: Satu, kemasyhuran sang Kyai, ketokohan dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh. Untuk dapat menggali ilmu dari Kyai tersebut secara teratur dan dalam waktu yang lama, para santri harus meninggalkan kampung halamannya dan menetap di dekat kediaman Kyai. Dua, hampir semua pesantren berada di desa-desa dimana tidak tersedia perumahan (akomodasi) yang cukup untuk dapat menampung santri-santri. Dengan demikian mereka perlu ditampung dalam suatu pondokan. Tiga, ada sikap timbal balik antara Kyai dan santri, dimana para santri menganggap Kyai seolah-olah sebagai bapaknya sendiri, dan Kyai menganggap santri sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa dilindungi, apalagi ketika santri datang ke Kyai diantarkan oleh keluarganya dengan membawa amanat titip kepadanya untuk dididik dan dibina dalam hal agama.
Kedua, adanya masjid sebagai tempat yang tepat untuk mendidik para santri, kegiatan keagamaan, terutama untuk menjalankan shalat lima waktu, khutbah, shalat jum’at dan pengajaran kitab-kitab. Biasanya, di pesantren selalu tersedia masjid di dalamnya, baik untuk kepentingan pesantren itu sendiri juga untuk tempat ibadah masyarakat di luar pesantren. Bahkan dalam banyak hal sebuah pesantren yang baru berdiri pun akan mendirikan masjidnya terlebih dahulu secara permanen dan megah daripada bangunan pondokan lainnya.
Kedudukan masjid memang sangat sentral bagi sebuah pesantren. Menjadikan masjid sebagai tempat pendidikan merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan tradisional dalam Islam sejak zaman awal peradaban Islam. Pesantren-pesantren di Jawa memelihara tradisi tersebut dengan mengajarkan pengetahuan keagamaan di masjid serta melaksanakan aktivitas ibadahnya di masjid tersebut.
Ketiga, pengajaran kitab-kitab Islam klasik atau yang kemudian sering disebut sebagai kitab kuning. Kitab-kitab ini merupakan kitab-kitab karangan ulama yang menganut faham Syafi’iyah, dan merupakan sarana pengajaran yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Selanjutnya pada paruh abad ke-20-an, beberapa pesantren sudah mulai mengembangkan diri dengan membuka pendidikan formal, semisal madrasah dan sekolah di lingkungannya. Pola pengajaran kitab di pesantren dilakukan melalui sistem halaqah, wetonan, dan sorogan.
Keempat, santri yang belajar di pesantren. Dalam tradisi pesantren, santri dikategorikan dalam dua bentuk; a. Santri mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap di dalam asrama pesantren, dan b. Santri kalong, yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap di pesantren. Untuk mengikuti pelajarannya, mereka (santri kalong) bolak-balik (nglajo) dari rumahnya.
Kelima, Kyai yang merupakan elemen paling esensial dari suatu pesantren, disamping sebagai pendirinya atau keturunan dari yang mendirikan pesantren, juga merupakan pusat dari perubahan sosial dalam pesantren. Setiap daerah memiliki nama sendiri untuk menyebut Kyai. Biasanya terminologi Kyai lebih banyak berada di Jawa, utamanya Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara di Jawa Barat disebut dengan “Ajengan”, di Kalimantan dan Lombok disebut dengan “Tuan Guru”.
Kelima elemen tersebut di atas menjadi kekuatan yang membentuk lembaga pesantren sebagai subkultur. Penyebutan subkultur oleh Gus Dur memang belum menjadi istilah baku. Baginya, istilah tersebut lebih banyak didorong oleh ketiadaan istilah lain yang lebih tepat daripada sebagai hasil pengolahan data empiris yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Istilah subkultur merupakan istilah yang ditemukan dengan menentukan kriteria minimal dalam lingkungan pesantren yang dapat dikategorikan sebagai subkultur.
Kriteria minimal tersebut, pada dasarnya meliputi aspek-aspek berikut: a. eksistensi pesantren sebagai sebuah lembaga kehidupan yang menyimpan pola kehidupan umum di negeri ini; b. terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantren; c. berlangsungnya proses pembentukan tata nilai tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbolnya; d. adanya daya tarik keluar, sehingga memungkinkan masyarakat di sekitarnya menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat itu sendiri; e. berkembangnya suatu proses pengaruh-mempengaruhi dengan masyarakat di luarnya yang akan berkulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang secara universal diterima kedua belah pihak.
Potret kehidupan sehari-hari pesantren sebagai proses dialektika dan interaksi antara Kyai dengan santri, santri dengan santri, serta dengan masyarakat di lingkungan sekitar memberikan sikap hidup baru. Dialektika itu diterima sebagai keniscayaan, utamanya karena kepercayaan penuh kepada pesantren (baca: Kyai) yang dapat memberikan keteladanan tentang bagaimana hidup sesuai dengan norma agama.
Sikap dan perilaku hidup yang berkembang di pesantren –yang dicontohkan Kyai- kemudian bepengaruh kepada santri dan masyarakat di lingkungan pesantren. Dialektika kehidupan lingkungan internal pesantren dengan Kyai sebagai sentralnya, karena kewibawaan keilmuan dan kharismatiknya membuat pesantren seringkali menjadi contoh keteladanan sikap hidup bagi masyarakat sekitar.
Potret kehidupan pesantren yang juga terkadang berbeda dengan lingkungan masyarakat sekitar akhirnya juga memberikan subkultur baru yang berkembang. Umpamanya dari bentuk bangunan fisik yang menjadi improvisasi kalangan pesantren; yakni dari rumah kediaman Kyai, surau atau masjid, tempat pembelajaran hingga pondokan / asrama santri. Melalui lingkungan yang demikian, kemudian diciptakanlah semacam cara kehidupan yang memiliki sifat dan ciri tersendiri, dimulai dengan jadwal kegiatan yang memang keluar dari kebiasaan rutin masyarakat.
Model kegiatan pesantren tergantung dari pola pengajaran dan kegiatan pokok / wajib di pesantren, misalnya, berdasarkan waktu shalat wajib. Pola kegiatan yang biasa dikerjakan pada waktu-waktu tertentu oleh santri dikerjakan dengan waktu yang berbeda. Dengan demikian tidak jarang di lingkungan pesantren dijumpai aktivitas memasak, mencuci, bahkan mandi dikerjakan pada dini hari, karena waktu shubuh akan dimulai untuk aktivitas pembelajaran.
Dalam pandangan Gus Dur, dimensi waktu yang demikian unik ini tercipta karena kegiatan pokok pesantren dipusatkan pada pemberian pengajian buku-buku teks (al-kutub al muqarrarah) pada setiap habis menjalani shalat wajib. Aktivitas lain harus tunduk dan mengikuti pembagian waktu pengajian tersebut. Itulah sebabnya, mengapa pelajaran di malam hari bisa lebih panjang ketimbang di waktu siang hari, bahkan masa belajar santri pun tidak ada batasannya, tergantung dari santri atau orang tuanya sendiri.
Potret subkultur pesantren juga bisa dilihat dari struktur pengajaran yang diberikan. Dari sistematika pengajaran, dijumpai jenjang pelajaran yang berulang-ulang dari tingkat ke tingkat atau tahap ke tahap, tanpa terlihat kesudahannya, yang membedakan hanya jenjang / level kitab atau teks yang diberikan Kyai kepada santri. Dari kitab dengan kategori ringan sampai kitab yang dianggap berat oleh santri.
Sistem pengajarannya pun biasanya bersifat klasikal, semacam kuliah umum, dimana Kyai membaca, menerjemahkan dan menerangkan persoalan-persoalan yang disebutkan dalam teks yang sedang dipelajari. Santri kemudian membaca ulang teks itu, entah di hadapan Kyai maupun di bilik-bilik. Tidak ada standar kelulusan dalam penguasaan materi, kecuali hanya pada bagaimana santri menerjemahkan inti teks tersebut secara aplikatif kedalam kehidupan sehari-hari.
Pola pembelajaran teks agama bukan hanya mengajarkan cara membaca dan menerjemahkan, melainkan menjadikan isi dari materi teks sebagai pedoman nilai. Nilai-nilai yang tercipta dalam bentuk serangkaian perbuatan sehari-hari inilah yang kemudian dikenal dengan “cara kehidupan santri yang -oleh sementara orang (misalnya: Clifford Geertz)- dikontraskan dengan kehidupan kaum abangan”.

5. Islam dan Toleransi
Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, dan bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama. Dalam al-Quran disebutkan, yang artinya:
“Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah Dia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitik). Namun Dia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikaruniakan kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Dia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (QS. 5: 48).
Al-Quran menjelaskan bahwa Allah SWT menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika dia menunjukkan keinginan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (QS. 10: 99).
Begitulah beberapa prinsip dasar Al-Quran yang berkaitan dengan masalah pluralisme dan toleransi. Paling tidak, dalan dataran konseptual, Al-Quran telah memberikan resep atau arahan-arahan yang sangat diperlukan bagi manusia Muslim untuk memecahkan masalah kemanusiaan universal, yaitu realitas pluralitas keberagamaan manusia dan menuntut supaya bersikap toleransi terhadap kenyataan tersebut demi tercapainya perdamaian di muka bumi. Karena Islam menilai bahwa syarat untuk membuat keharmonisan adalah pengakuan terhadap komponen-komponen yang secara alamiah berbeda.
Di samping itu, era sekarang adalah era pluralisme, dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk saling tergantung dan menanggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Salah satu bagian penting dari konsekuensi tata kehidupan global yang ditandai kemajemukan etnis, budaya, dan agama tersebut, adalah membangun dan menumbuhkan kembali teologi pluralisme dalam masyarakat.
Hubungan harmonis antar-umat beragama seringkali menuai masalah tatkala masing-masing pihak bersikukuh dengan kebenaran agama yang dianutnya, dengan memaksakan agamanya kepada yang lain. Dalam konteks ini, Islam melalui Al-Quran dengan tegas menolak setiap orang beriman untuk memaksakan agamanya kepada orang lain. Bahkan, Al-Quran menjamin kebebasan beragama kepada manusia. Sebagaimana diungkapkan dalam firman Allah SWT, yang artinya:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 256).
Orang beriman juga harus mampu menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan, misalnya, memaksakan iman kepada orang lain dengan paksaan fisik, atau dengan paksaan lain, seperti tekanan sosial, bujukan harta benda atau kedudukan, atau cara-cara lain yang bersifat politis dan tidak berkeadilan/berkeadaban.
Oleh karena itu, sikap toleran dan tidak boleh ada paksaan dalam beragama meniscayakan penyebaran agama secara santun dan sopan. Mengajak orang untuk beragama, baik kepada orang yang seagama maupun kepada orang yang berlainan agama, harus dilakukan dengan sebaik-baik ajakan dan penuh hikmah (Q.S. Al-Nahl/16: 125). Bahkan, Al-Quran secara tegas melarang umat-beragama berbantah-bantahan mengenai Tuhan (Allah) dengan para penganut kitab suci lain, karena para penganut kitab suci itu meski berbeda-beda tetapi sesungguhnya mereka menyembah Allah yang Maha Esa. Allah SWT menegaskan itu dalam firman-Nya, yang artinya: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati” (Q.S. Al-Baqarah: 139).
Ayat di atas menunjukkan bahwa tidak diperkenankan para pemeluk agama untuk mengklaim dirinya paling benar. Ayat ini tidak memersalahkan siapa-siapa, dan tidak juga mengklaim kebenaran untuk siapa-siapa. Oleh karena itu, cara berpikir umat beragama yang biasanya hitam putih: agama kitalah yang benar, yang absah, dan satu-satunya jalan keselamatan dari Tuhan; agama lain adalah salah, palsu, menyesatkan, dan masuk neraka, haruslah ditampik. Sebab, ketika perang klaim kebenaran (truth claim) dan janji keselamatan dicuatkan, maka tidak saja meletupkan keberagamaan yang eksklusif, tapi juga akan melahirkan suasana saling curiga, dan dalam banyak kasus menjadi konflik kekerasan antar-umat beragama atas nama Tuhan.
Dalam rangka itu, pendidikan masih dianggap sebagai instrumen penting. Sebab, pendidikan sampai sekarang masih diyakini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya, dan mampu menjadi guiding light bagi generasi muda penerus bangsa. Dalam konteks inilah, pendidikan agama sebagai media penyadaran umat perlu membangun teologi inklusif dan pluralis, demi harmonisasi agama-agama (yang telah menjadi kebutuhan masyarakat agama sekarang).
Menarik untuk mencermati pernyataan Alex R. Rodger (1982) bahwa “pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan pada umumnya dan berfungsi untuk membantu pengembangan pengertian yang dibutuhkan bagi orang-orang yang berbeda iman, sekaligus juga untuk memperkuat ortodoksi keimanan bagi mereka”. Artinya, pendidikan agama adalah sebagai wahana untuk mengeksplorasi sifat dasar keyakinan agama di dalam proses pendidikan dan secara khusus mempertanyakan adanya bagian dari pendidikan keimanan dalam masyarakat. Pendidikan agama seharusnya mampu merefleksikan persoalan pluralisme, dengan mentransmisikan nilai-nilai yang dapat menumbuhkan sikap toleran, terbuka dan kebebasan dalam diri generasi muda. Maksud dan tujuan pendidikan pluralisme dapat dijadikan sebagai jawaban atau solusi alternatif bagi keinginan untuk merespon persoalan-persoalan keberagaman. Sebab dalam pendidikannya, pemahaman Islam yang hendak dikembangkan oleh pendidikan berbasis pluralisme adalah pemahaman dan pemikiran yang bersifat inklusif.
Pendidikan formal mempunyai tugas untuk mempertahankan nilai-nilai dan budaya nusantara dari derasnya perkembangan teknologi dari negara-negara maju. Artinya, pendidikan harus tetap mempertahankan tradisi akademik yang kokoh, yang merupakan bukti eksistensinya terjaga dalam menjaga keaslian iklim akademik. Pendidikan harus tetap menjaga dan melestarikan lima aspek dalam membentuk peserta didik, yaitu: a. dimensi intelektual; b. dimensi kultural; c. dimensi nilai-nilai transendental; d. dimensi keterampilan fisik/jasmani; e. dimensi pembinaan kepribadian manusia sendiri.
Dalam kenyataannya, lembaga pendidikan sering mengabaikan kelima aspek di atas, pada akhirnya menyebabkan hilangnya peran proses persemaian nilai-nilai dan budaya kesantunan dan religiusitas yang inklusif. Upaya menciptakan dinamika peradaban manusia yang berbasis keberagaman merupakan keniscayaan bagi suatu negara berkembang. Arah pengembangannya tidak boleh kontraproduktif dengan nilai-nilai dasar keagamaan dan budaya Timur. Hal ini agar tidak terjadi krisis intelektual dan moral manusia. Apalagi kehidupan global, langsung maupun tidak langsung, berpengaruh terhadap nilai-nilai kehidupan masyarakat maupun bangsa. Pendidikan merupakan cagar budaya dan sistem sosial berpengaruh membentuk kepribadian dan interaksi sosialnya.
Praktik toleransi, dalam perspektif Islam, tidak dapat dilepaskan dengan konsep pluralitas, sehingga muncul istilah ajaran Islam atau pendidikan Islam pluralis. Konstruksi pemikiran semacam ini berorientasi pada proses penyadaran yang berwawasan pluralitas secara agama, sekaligus berwawasan multikultural. Dalam kerangka yang lebih jauh, konstruksi ajaran Islam pluralis dapat diposisikan sebagai bagian dari upaya secara komprehensif dan sistematis untuk mencegah dan menanggulangi konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme, dan upaya menuju integrasi bangsa. Nilai dasar dari konsep ajaran dan praktik ini adalah toleransi.
Ajaran Islam inklusif adalah paham keberagamaan yang didasarkan pada pandangan bahwa agama-agama lain yang ada di dunia ini mengandung kebenaran dan dapat memberikan manfaat serta keselamatan bagi penganutnya. Di samping itu, ia tidak semata-mata menunjukkan pada kenyataan tentang adanya kemajemukan, melainkan keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan. Sebaliknya, ajaran eksklusif merupakan sikap yang memandang bahwa keyakinan, pandangan, pikiran, dan prinsip diri sendirilah yang paling benar; sementara keyakinan, pandangan, pikiran, dan prinsip yang dianut orang lain adalah salah, sesat, dan harus dijauhi.
Institusi lembaga pendidikan pesantren cenderung identik dengan masyarakat NU (Nahdlatul Ulama) yang tentu saja tidak dapat dilepaskan sebagai rujukan praktik beragama. Sikap golongan Islam-pesantren yang diwakili NU, pada dasarnya tidak terlepas dari akidah Ahlusunnah waljama’ah (Aswaja) yang dapat disebut sebagai faham moderat. Pemikiran Aswaja sangat mengandung nilai-nilai toleransi terhadap pluralisme. Berbagai pikiran yang tumbuh dalam masyarakat muslim mendapatkan pengakuan yang apresiatif. Dalam hal ini Aswaja sangat responsif terhadap hasil pemikiran berbagai madzhab, bukan saja yang masih eksis di tengah-tengah masyarakat (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), melainkan juga terhadap madzhab-madzhab yang pernah lahir, seperti imam Daud al-Zhahiri, Imam Abdurrahman al-Auza’i, Imam Sufyan al-Tsauri, dan lain-lain. Dalam praktiknya, ajaran Islam Aswaja juga sangat toleran terhadap faham dan praktik keagamaan yang berbeda dengannya.

C. Metode Penelitian
Kajian ini merupakan hasil penelitian deskriptif kualitatif, dengan setting lokasi penelitian Pesantren Bali Bina Insani. Dinamakan penelitian deskriptif, karena bertujuan membuat gambaran mengenai situasi tertentu. Selain itu, tujuan deskriptif adalah untuk membantu pembaca mengetahui apa yang terjadi di lingkungan di bawah pengamatan, seperti apa pandangan partisipan yang berada di latar penelitian, dan seperti apa aktivitas yang terjadi di latar penelitian. Subjek informan penelitian adalah para pengasuh dan guru-guru di Pesantren Bali Bina Insani. Subjek informan merupakan sumber informasi potensial yang bisa memberikan dan memperkaya informasi tentang pokok masalah yang menjadi pusat perhatian penelitian.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam (indept interview), observasi dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan secara mengalir tanpa panduan yang terstruktur secara kaku. Sedangkan observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas pesantren dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sementara dokumentasi digunakan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan data-data sekunder mengenai potret pendidikan dan praktik toleransi di Pesantren Bali Bina Insani. Dokumen yang dimaksud adalah sumber pustaka buku, hasil penelitian terdahulu, dan sumber-sumber internet.
Analisis data menunjuk pada kegiatan mengorganisasikan data ke dalam susunan-susunan tertentu dalam rangka penginterpretasian data. Analisis data dilakukan sejak koleksi data, reduksi, display, sampai pada kesimpulan. Data ditabulasi sesuai dengan susunan sajian data yang dibutuhkan untuk menjawab masing-masing masalah, kemudian diinterpretasikan dan disimpulkan, baik untuk masing-masing masalah atau keseluruhan masalah yang diteliti. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis induktif-kualitatif, yaitu analisis yang bertolak dari data dan bermuara pada simpulan-simpulan umum. Kesimpulan umum itu bisa berupa kategorisasi maupun proposisi.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Potret Pendidikan di Pesantren Bali Bina Insani
Berdirinya Pondok Pesantren Bali Bina Insani (27 Oktober 1996) berawal dari pendirian Pondok Yatama tanggal 27 Oktober 1991, yang dirintis oleh Ketut Imaduddin Djamal. Berdirinya pesanttren ini diilhami oleh sebuah fakta empiris yang menunjukkan minimnya lembaga pendidikan Islam di Bali terutama pondok pesantren. Umat islam hanya berjumlah 6,17%, dan belum ada pondok pesantren yang representatif.
Agar keberadaan pondok sesuai dengan peraturan yang berlaku, didirikanlah badan hukum dengan nama Yayasan La Royba pada tanggal 30 April 1992 dengan nama notaris Amir Syarifuddin, SH., dan memperoleh izin dari Kepala Kantor Wilayah Departemen Sosial Bali No. 118 / BBS / 05 / XI / 92 dengan ketua Drs. H. Kt. Imaduddin Djamal, SH., Sekretaris Hj. Sofiah Dewa Pere, Bendahara Dewi Yana Robi, Penasihat di antaranya Prof. KH. Ali Yafie dan Ny. Hj. Ratna Maida Hasjim Ning.
Perkembangan Pondok Yatama yang cukup pesat melahirkan simpati dan juga antipati. Ketidaksenangan banyak pihak dihadapi dengan sabar, tawakkal, penuh kesabaran, penuh harap kepada Allah sembari membenahi segala hal yang diperlukan, kerja keras dan pendekatan kultural kepada semua pihak. Pembenahan yang dilakukan termasuk merancang pemindahan pondok ke lokasi yang lebih luas dan prospektif, mengingat lokasi saat itu hanya 4 are, bising dan sudah tidak memadai untuk menampung santriwan / santriwati yang terus bertambah. Pengadaan tanah terealisir tahun 1993 dengan membebaskan tanah seluas 5897m2, harga per are Rp. 950.000, berlokasi di Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan Tabanan.
Pondok Pesantren Bali Bina Insani terletak di Desa Meliling Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan (11 km barat Kota Tabanan, + 32 km dari kota Denpasar). Pondok Pesantren ini berdiri di areal seluas 5700m2, dan berada di tengah-tengah masyarakat Hindu yang taat melaksanakan ajaran-ajaran agamanya. Keberadaan Pondok telah diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena beberapa faktor, diantaranya faktor kesejarahan, yang tidak pernah melahirkan komflik etnis dan agamis serta faktor toleransi (tasaamuh), kebersamaan dan kesetaraan (musaawah).
Para santri dan santriwati mayoritas berasal dari Propinsi Bali, tapi ada juga dari Propinsi-Propinsi lain di Indonesia, seperti dari Sumatera, Jawa, Lombok, NTT dan dulu banyak berasal dari Timtim. Jumlah santri dan santriwati saat ini 141 orang dengan 34 orang guru. Sebanyak 9 orang ustadz dan 8 ustadzah sebagai guru tetap yang mendampingi dan mengkoordinir kegiatan santri selama 24 jam.
Para pengajar di pesantren ini terdiri dari lulusan–lulusan perguruan tinggi yang berbasis keagamaan seperti dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah dan Alumni Pondok Pesantren lainnya serta dari perguruan tinggi umum (IKIP, UNUD). Di antara para guru terdapat beberapa orang yang beragama Hindu dengan mengajarkan mata pelajaran sesuai dengan keahliannya serta mengajarkan tradisi masyarakat Bali dengan tujuan agar para santri memahami tradisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat sehingga komunikatif dan interaktif dengan lingkungannya.
Pondok Pesantren Bali Bina Insani mengadopsi sistem yang ada di Pondok Pesantren Darusssalam Gontor, juga Darunnajah Jakarta, yang menerapkan komunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris yang dibimbing langsung oleh Ustadz dan Ustadzah yang menguasai bidang ini. Sistem ini diterapkan agar para santri dapat mengkaji literatur klasik (kitab kuning) serta mempersiapkan mereka agar mampu memasuki pangsa kerja sebagai guide di bidang kepariwisataan, mengingat Bali merupakan primadona wisatawan manca negara.
Para santri melakukan kegiatan seperti layaknya pondok-pondok pesantren di tempat lain, yaitu: mulai dari jam 04.00 pagi sampai dengan jam 10.00 malam. Dalam rentang waktu tersebut mereka mengikuti kegiatan formal dan non formal. Kegiatan formal yaitu: menuntut ilmu di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang berada di Pondok. Sedangkan yang non formal mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat kepesantrenan yaitu: muhadoroh, muhadatsah, pramuka, kajian-kajian kitab kuning serta kursus-kursus. Kursus yang sedang dilaksanakan pada saat ini yaitu kursus otomotif, kerja sama antara Pondok dan LLK Tabanan (Depnaker).
Kajian-kajian terhadap kitab kuning salah satunya dengan menggunakan pengantar Bahasa Bali, yaitu: membahas Kitab Attarghib wat Tarhib, Ta’limul Muta’allim. Ini dilakukan untuk memberikan bekal kepada santri agar mereka memahami Bahasa Bali serta tidak tercabut dari akar dan tradisi masyarakat Bali.
Pondok Pesantren ini mengelola Madrasah Tsanawiyah yang didirikan pada 27 Juni 1997, Madrasah Diniyah yang didirikan pada 20 Juli 1997, Madrasah Aliyah yang didirikan pada 25 Juni 2000, SMK TI yang didirikan pada 15 Juni 2013, dan TPQ yang didirikan pada 1 Oktober 2013. Lembaga-lembaga pendidikan ini mendapat pembinaan langsung dari Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan nasional serta diajar oleh guru-guru berpengalaman, sehingga dapat meluluskan santrinya setiap tahun dengan memuaskan.
Pesantren ini memiliki fasilitas –antara lain- tujuh (7) ruang belajar, asrama putra, asrama putri, musholla, kantor, perpustakaan, mes guru, kolam lele, kantin, lapangan volly dan mobil antar jemput. Kegiatan ekonominya terdiri dari: Koperasi Pondok Pesantren, foto copi, tiga buah wartel, ambulans, toko kelontong, rumah makan dan kantin. Data santri pada tahun pelajaran 2000 – 2001 di dalam asrama 102 anak (49 putra & 53 putri) yang duduk di bangku: SD berjumlah 9 anak (5 putra, 4 putri); MTs Bali Bina Insani, berjumlah 62 anak (27 putra, 35 putri); MA Bali Bina Insani, berjumlah 18 anak (9 putra, 9 putri); SMU 5 anak (3 putra, 2 putri).
Pondok Pesantren Bali Bina Insani telah mengkader 5 santri dan 11 santriwati di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Darul Muttaqin Bogor, Al Amin Perinduan Madura. Aktifitas rutin Pondok Pesantren Bali Bina Insani: Mengaji Al – Qur’an, Tahfidz Juz ‘Amma, Belajar keagamaan di Madrasah Diniah, Kajian kitab klasik, Penerapan bahasa Arab / bahasa Inggris, Muhadloroh, Senam kesehatan jasmani (senam santri dan/atau senam Pramuka), Bela diri (Karate dan Silat), Pramuka, Qasidah-Hadlrah & Gambus, Kebersihan asrama & lingkungan sekitarnya, Sholat berjama’ah, Organisasi santri & alumni La – Royba (OSALA), Majalah Dinding Kasasi (Kreasi Anak Santri), Volley, Futsal, Atletik, Catur.
Jumlah tenaga pengajar 24 orang (6 Laki–laki, 18 perempuan) dengan tenaga kerumahtanggaan 2 orang perempuan. Diantara para pengajar di Pesantren Bali Bina Insani, yang menarik adalah adanya para pengajar beragama Hindu yang memang sengaja direkrut untuk mengajara di sekolah formal pada pesantren tersebut. Ada 8 guru beragama Hindu (3 perempuan, 5 laki-laki). Guru-guru non Muslim di pesantren tersebut biasanya diminta mengampu mata pelajaran PKn, IPS dan mata pelajaran umum lainnya. Guru-guru Hindu yang perempuan juga dibiarkan rambutnya terbuka (tidak tertutup oleh kerudung atau jilbab atau hijab lainnya). Pakaiannya juga tidak brukut, hanya memakai baju hem dan celana.
Pondok Pesantren Bali Bina Insani merupakan lembaga pendidikan tingkat dasar keagamaan dan menengah yang berbasis dan berformasi sistem “pondok pesantren” dengan jenjang pendidikan dan masa studi sebagai berikut: Untuk tamatan SD / MI ke tingkat MTs masa pendidikanya selama 3 tahun; Untuk tamatan SMP / MTs ke tingkat MA masa pendidikannya selama 3 tahun; TMI Bali Bina Insani masa pendidikan 6 tahun.
Dilihat dari jenjang pendidikan atau masa studinya, Bali Bina Insani memang setingkat dengan SMP dan SMA atau MTs dan MA. Tetapi antara Bali Bina Insani dan lembaga-lembaga pendidikan lain terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat mendasar dengan spesifikasi dan ciri-ciri khusus di bawah ini;
a. Selain nilai-nilai keislaman, keindonesian dan kepesantrenan; juga berlandaskan pada nilai-nilai perjuangan dan kejuangan yang mewarnai seluruh aktivitas di dalamnya.
b. Kyai (mudirul ma’had) dan guru-guru Bali Bina Insani berfungsi sebagai moral force yang dihormati dan dipatuhi oleh seluruh santri.
c. Seluruh santri dan guru Bali Bina Insani harus mukim (berdiam) di dalam pondok selama 24 jam dalam suasana kehidupan yang Islami, ma’hadi, tarbawi, kecuali beberapa guru atau instruktur yang berasal dari para profesional di masyarakat.
d. Sejak dini, kepada para santri Bali Bina Insani telah ditanamkan pengertian yang sebenarnnya tentang tholabul ilmi.
e. Pendidikan difahami dalam pengertian “pembebasan, pembendaharaan, pembudayaan jauh lebih dipentingkan daripada sekedar pengajaran (instruksional), sehingga keteladanan (uswah), pendampingan (suhbah) dan ajakan kepada kebaikan (da’wah ilal khoir) menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari di dalam pondok”.
f. Arah pendidikan di Bali Bina Insani tidak semata-mata bersifat vertikal (sekedar untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi), tapi yang terpenting arahnya untuk mempersiapkan para santri untuk dapat terjun ke masyarakat untuk mengamalkan “bekal-bekal dasar“ yang dimilikinya serta mengembangkannya secara optimal secara mandiri / otodidak. Karena itu tidak ada istilah “nganggur” untuk para alumni TMI.
g. Setelah menyelesaikan studinya di kelas XII dan sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, para alumni wajib mengabdi melaksanakan Program Pengabdian masyarakat selama 1 bulan di lembaga-lembaga pendidikan yang membutuhkannya, di bawah pengawasan dan evaluasi Biro Kaderisasi dan Pembinaan Alumni Pondok Pesantren Bali Bina Insani.
Nilai-nilai dasar Pondok Pesantren Bali Bina Insani adalah: a. Keislaman (Aqidah, Syari’ah dan akhlaq Islam; Tradisi keilmuan dan kehikmahan yang berkembang di kalangan kaum Muslimin, terutama pada zaman keemasan Islam); b. Keindonesiaan (Pancasila dan UUD 1945-NKRI-Konstitusi Negara yang berlaku; Undang-undang No. 20, Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Undang-undang lainnya yang terkait); c. Kepesantrenan (Panca jiwa pondok pesantren: keihklasan, kesederhanaan, ikhwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan yang positif; Sunnah-sunnah dan Tradisi-tradisi pesantren yang positif; Falsafah “Belajar untuk Ibadah“ ( ilmu Nafi’ dan Al-Hikmah); d. Kejuangan (Falsafah “Al-Jihad, Al-Mujahadah dan Al-Ijtihad”; Falsafah “Meraih Prestasi Paling Maksimal, Pengabdian yang Terbaik, Pengorbanan Tanpa Pamrih”; Perjuangan menuju “izzil Islam wal muslimin” sebagai “rahmatan lil-‘Alamin”; Klip “Keikhlasan, Loyalitas, Integritas, Pengabdian”).
Arah pendidikan di Pondok Pesantren Bali Bina Insani tidak semata-mata untuk mempersiapkan alumninya melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk siap terjun langsung ke masyarakat, mengamalkan ilmunya sambil belajar mengembangkan diri secara mandiri atau otodidak. Ketiga arah pendidikan ini dikenal di kalangan para alumni dengan semboyan; “Obsesiku selalu: Berjasa, Berkembang dan Mandiri“ yang mengacu pada 3 jenis orintasi, yaitu Orientasi Kemasyarakatan dan Kebangsaan, Orientasi Keulama’an / Kecendekiaan, serta Orientasi Kepemimpinan dan Keguruan. Untuk maksud tersebut kepada para santri selalu ditanamkan falsafah-falsafah hidup dan motto-motto yang bersumber dari Al-Quran, Al-Hadits, Aqwal al-‘Ulama, Al-Amtsal wal Hikam, dan lain-lain.
Kurikulum Pondok Pesantren Bali Bina Insani adalah segala rencana dan pengaturan yang berhubungan dengan tujuan, materi dan instrumen pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan para santri dan guru-guru, baik dalam rangka berinteraksi dengan Allah SWT, ataupun dalam berinteraksi dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia dan dengan alam. Semua kegiatan di kelas, asrama, kamar mandi, masjid, kantor, kamar makan, dan tempat-tempat lain, baik pada pagi hari, siang, sore ataupun malam hari, seluruhnya harus sejalan dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kurikulum Pondok Pesantren Bali Bina Insani adalah “Kurikulum Hidup dan Kehidupan.”
Kurikulum Pondok Pesantren Bali Bina Insani disusun dan dikembangkan berdasar prinsip-prinsip pendidikan yang benar dan proporsional, antara lain berpusat pada peserta didik, relevan dengan kebutuhan hidup, responsif terhadap perkembangan iptek dan seni, menyeluruh dan berkesinambungan sepanjang hayat, serta seimbang antar berbagai unsur; lahir batin, dunia akhirat, individual dan sosial, tuntunan hidup di masyarakat dan kondisi objektif peserta didik, dan lain-lain.
Secara umum, tujuan pendidikan di Pondok Pesantren Bali Bina Insani mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional dan Tujuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah ditetapkan dalam undang-undang dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan penekanan khusus pada upaya mempersiapkan santri / alumni untuk: a. Menguasai bekal-bekal dasar keulamaan / kecendikiaan, kepemimpinan dan keguruan; b. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan bekal-bekal dasar tersebut sampai ke tingkat yang paling maksimal secara mandiri; c. Siap mengamalkannya di tengah-tengah masyarakat secara benar dan proporsional. Tujuan institusional tersebut kemudian dijabarkan dalam bentuk “Tujuan Kurikuler”, yaitu tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam setiap bidang edukasi, serta “Tujuan Intruksional atau Edukasional”, yaitu tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam setiap Pokok Bahasan / Judul / Tema yang ada di dalam masing-masing Bidang Edukasi.
Secara garis besar, materi atau subjek pendidikan (areas of education) di Pondok Pesantren Bali Bina Insani meliputi 7 jenis pendidikan: a. Pendidikan keimanan (aqidah dan syari’ah); b. Pendidikan kepribadian dan budi pekerti (akhlak karimah); c. Pendidikan kebangsaan, kewarganegaraan dan HAM; d. Pendidikan keilmuan (intelektual); e. Pendidikan kesenian dan keterampilan vokasional (kestram); f. Pendidikan olahraga, kesehatan dan lingkungan (orkesling); g. Pendidikan kepesantrenan (ma’hadiyyat).
Sesuai dengan sifatnya yang berupa kurikulum hidup dan kehidupan, maka kurikulum di Pondok Pesantren Bali Bina Insani dilaksanakan secara terpaadu selama 24 jam dalam bentuk “integrated curriculum” dan tidak bisa dipilah-pilah. Namun untuk mempermudah pelaksanaan, pengawasan dan evaluasinya, maka kurikulum tersebut dapat dikelompokkan pada jenis program, yaitu program intra, ekstra, ko kurikuler, serta program bimbingan dan penyuluhan.
Program Intra Kurikuler dilaksanakan pada pagi dan siang hari / jam ke 1-8 (mulai pukul 07.30-14.00) dalam bentuk pembelajaran formal di kelas, di perpustakaan, praktik lapangan, praktik laboratorium dan evaluasi belajar berkala. Program Intra Kurikuler berada di bawah tanggung jawab Kepala Sekolah (Mudir Madrasah), Kabag Akademik, Kabag Keguruan dan Guru-guru.
Program Ko-Kurikuler dimaksudkan untuk menunjang program Intra Kurikuler dan dikemas dalam bentuk petunjuk-petunjuk teknis (Juknis) untuk guru dan santri. Program Ko-Kurilkuler terdiri dari 2 jenis kegiatan, yaitu: a. Kegiatan Tutorial, meliputi: Ibadah Amaliyah Sehari-hari, Tadararus Al-Qur’an Muwajjah, Belajar Tutorial Malam Hari, Pengkajian Kitab-kitab Kuning, Pembinaan Bahasa Arab dan Inggris; b. Kegiatan Praktikum, meliputi: Praktik Sopan Santun dan Komunikasi Non-Verbal, Praktik Mengajar (bagi santri Kelas akhir), Praktik Berda’wah; c. Kegiatan Ibadah Ritual, meliputi: Hizib Nahdlotul Wathon La-Royba malam Jum’at, Hailalah Jumat asar, Barzanji Ahad sore. Program Ko-Kurikuler dilaksanakan di luar jam belajar formal di bawah bimbingan guru-guru dan santri-santri senior dan di bawah tanggung jawab Kepala Sekolah (Mudir Madrasah), Kabag Akademik, Kabag Keguruan, Kabag Kesantrian dan Guru.
Program Ekstra Kurikuler dimaksudkan sebagai pendidikan tambahan bagi seluruh santri serta praktik pendidikan kepemimpinan, manajemen dan keorganisasian bagi santri-santri senior yang menjadi pengurus organisasi santri. Program Ekstra Kulikuler terdiri dari 2 jenis kegiatan, yaitu: a. Kegiatan–kegiatan Wajib, meliputi: Praktik Ibadah Amaliyah Harian, Praktik Berorganisasi, Latihan Ekspresi 3 Bahasa (Muhadloroh), Latihan Pramuka / Dinatrian Mingguan, Senam Wajib Mingguan, Kerja Pemeliharaan Lingkungan Harian, Tadabbur Malam Menjelang Tidur, Istirham dan Istighotsah Mingguan, Kursus-Kursus Wajib; b. Kegiatan-kegiatan pilihan, meliputi: Kursus-kursus pilihan dalam berbagai bidang, Latihan Olahraga dan Bela Diri dalam berbagai cabang, Diskusi, Seminar, Bedah Buku, Penelitian dan lain-lain. Program-program ini dilaksanakan oleh para santri senior pengurus organtri, di luar jam belajar formal pada pagi hari sebelum masuk kelas, serta pada sore dan malam hari, di bawah bimbingan Pengasuh Pondok.
Program Bimbingan dan Penyuluhan dimaksudkan untuk membantu santri dalam menjalankan disiplin dan kegiatan pendidikan sehari-hari, baik yang diberikan secara berkala maupun secara insidental atau ketika santri mendapatkan kesulitan tertentu. Program ini dilaksanakn oleh Guru-guru Pelaksana BP, dibantu oleh santri-santri senior yang berkompenten, di bawah bimbingan langsung dari Kepala Sekolah (Mudir ‘Aam) dan Pengasuh. Guru-guru pelaksana harian BP terdiri dari: Waliyyul Fashl (Wali Kelas), Musyrif Sakan (Pamong Asrama).
Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan mencakup 4 jenis disiplin / interaksi, yaitu: a. Disiplin Beribadah -Interaksi dengan Allah dan Rasul-NYA (Budaya Sholat Jama’ah, Dzikir dan Ibadah-ibadah Sunnah lainnya; Budaya Melafadzkan dan mengahayati Kalimat-kalimat Tauhid; Budaya patuh pada syari’ah Agama; Budaya Menghindari Larangan-larangan Agama); b. Disiplin Diri -interaksi dengan Diri Sendiri (Budaya Hidup sehat Jasmani dan Ruhani, Budaya Belajar Mandiri / Otodidak, Budaya mengatur waktu, Budaya Mengatur Uang dan Hak Milik Pribadi); c. Disiplin Sosial -Interaksi dengan Sesama Manusia (Budaya Hidup Sopan, Santun dan Komunikatif; Budaya Hidup Saling Toleransi / Tasamuh); Budaya Hidup Saling Menolong / Ta’awun; Budaya Hidup Saling Mengingatkan / Tawashi); d. Disiplin Lingkungan -Interaksi dengan Alam dan Sekitar (Budaya Hidup Sehat dan Bersih, Budaya Hidup Tertib, Budaya Hidup indah).
Silabus Pesantren Bali Bina Insani disusun per Sub-Bidang Edukasi, sebagai pelengkap dari kurikulum yang ada. Silabus ini berisi standar kompetensi (dasar dan pilihan), rincian materi pembelajaran, indikator, kegiatan pembelajaran dan penilaian, alokasi waktu yang disediakan dan sumber / bahan / alat belajar. Manajemen pendidikan dilaksanakan secara modern dengan falsafah ikhlas, cerdas dan tangkas. Manajemen pendidikan meliputi manajemen administratif, operasional, personalia, dan edukatif. Manajemen pendidikan berorientasi pada upaya pencapaian hasil serta pengembangan dan pengalamannya (task and achievement oriented).
Metode pendidikan dilakukan dengan cara mempertahanakan cara-cara lama yang baik dan mengakomodasikan cara-cara baru yang lebih baik (al-mukhafdhatu ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu be al-jadidi al-ashlah). Metode pendidikan mengacu pada efektifitas, efesiensi dan akselerasi. Metode pendidikan berorientasi pada pencapaian tujuan transformasi ilmu dengan pengembangan keperibadian. Metode pendidikan ditekankan pada upaya-upaya keteladanan, pembiasaan, pembentukan milieu, nasihat dan pengarahan, penugasan, serta pengawasan.
Dana, Sarana dan Lingkungan Pendidikan diusahakan dengan cara-cara yang halal dan baik; dipisahkan secara tegas antara hak milik pribadi dan hak milik pondok; mengacu kepada jiwa kemandirian; dikelola dengan manajemen yang modern dan amanah; tetap disikapi sebagai alat bukan tujuan; dan diciptakan sebagai salah satu unsur komplementatif bukan sekedar suplementatif.
Supervisi dan evaluasi pendidikan dilakukan secara periodik; Harian, Mingguan, Bulanan, Semesteran, Tahunan. Beberapa jenis ujian antara lain: Ujian Masuk, Ujian Tengah Semester Pertama, Ujian Semester Pertama, Ujian Tengah Semester Kedua, Ujian Semester Kedua, Ujian Akhir / Niha’i (EBTA). Bentuk–bentuk ujian terdiri dari: Ujian Lisan (Syafahi), Ujian Tulis (Tahriri), dan Ujian Praktik (Tathbiqi).
Syarat-syarat Dasar menjadi santri Pesantren Bali Bina Insani adalah: a. Muslim / Muslimah berusia antara 12-22 tahun; b. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama dalam masa pendidikan; c. Diantarkan dan diserahkan langsung oleh orang tua / walinya kepada Direktur / Pimpinan. Sedangkan syarat-syarat administratifnya adalah: a. Berijazah SD / MI-atau yang sederajat (untuk Program Reguler) dan Berijazah SMP / MTs – atau yang sederajat (untuk Program Intensif); b. Menyerahkan berkas-berkas pendaftaran yang ditetapkan; c. Memenuhi ketentuan–ketentuan pembayaran yang ditentukan.
Sementara itu syarat-syarat Moralitas dan Afeksi (diseleksi dengan cara psikotes, yaitu melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi) adalah: a. Memiliki latar belakang kehidupan pribadi, keluarga dan sosial yang baik; b. Siap hidup disiplin di dalam pondok dalam suasana damai dan dinamis; c. Berniat untuk menyelesaikan tugas studinya sampai tamat. Kemudian syarat–syarat Kognisi dan Psikomotor (diseleksi lewat tes tertulis, tes lisan dan tes praktik) adalah: a. Bisa melaksanakan ibadah sehari-hari dengan baik dan benar; b. Lancar membaca Al-Quran dan menulis Arab; c. Menguasai Dasar-dasar ‘Ulum Tanziliyah (Agama); d. Menguasai Dasar-dasar Berhitung dan Bahsa Indonesia; e. Menguasai Dasar-dasar ‘Ulum Kauniyah (Pengetahuan Umum).
Dalam pada itu, profil alumni Pondok Pesantren Bali Bina Insani adalah sebagai berikut. Pertama, menjadi Muslim, Mukmin, Muhsin yang bertakwa kepada Allah SWT (memiliki akidah yang kuat dan lurus), cinta Rasulullah SAW, dan patuh kepada syari’at agama; Ikhlas dan Istiqomah dalam “kemauan, pikiran dan perasaan”, serta dalam “perkataan dan perbuatan”; Siap untuk hidup Berjasa, Berkembang dan Mandiri sebagai “Perekat Umat” yang cinta damai dan persatuan.
Kedua, menjadi Warga Negara yang cinta tanah air, patuh pada konstitusi dan hukum yang berlaku, serta mau dan mampu untuk berkhidmah kepada bangsa, negara dan tanah air. Ketiga, menjadi Santri / Tholibul ‘ilmi yang cerdas dan memiliki tradisi-tradisi intelektual yang positif, menuju terciptanya “learning society”; Menguasai bekal-bekal dasar keulamaan / kecendikiawanan, kepemimpinan dan keguruan, serta mau dan mampu mengembangkannya sampai ke tingkat yang paling optimal; Cakap dan Mandiri dalam memilih dan menjalankan kehidupan di berbagai bidang (keluarga, sosial, budaya, ekonomi dan aliran politik). Keempat, menjadi Pejuang dan Pekerja Keras yang tangkas dan siap melaksanakan tugas-tugas da’wah di tengah-tengah masyarakat, menuju ‘izzil Islam wal Muslimin, sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Khusus untuk Santri Putri, selain keempat profil tersebut di atas, para santriwati diharapkan menjadi Muslimah, Mu’minah, Muhsinah yang Sholihah, Qonitah dan Hafidhoh; Istri yang ideal (Ro’iyah fi baiti zaujiha); Ibu Pendidik yang professional (Muro Bali Bina Insaniyah Mitsaliyah li Awladiha); Pemimpin bagi kaumnya (Qo’idah li Qaumiha).
Agenda Harian Santri/Santriwati Pesantren Bali Bina Insani
Waktu Kegiatan
60’ Sebelum Shubuh Bangun tidur dan qiyamul lail di Masjid/Musholla
Waktu Shubuh Shalat Shubuh Berjama’ah
Setelah Shubuh-05.45 Kegiatan kajian kitab kuning
05.45-07.15 Mandi dan makan pagi (kebersihan lingkungan)
07.15-07.30 Apel pagi didepan kelas
07.30-12.50 Belajar formal (jam 1 – 8)
12.50-13.50 Shalat Dhuhur Berjama’ah dan makan siang
13.50-14.20 Istirahat dan belajar kompil
Waktu Ashar Shalat Ashar Berjama’ah
Sesudah Ashar – 17.30 Kegiatan Pilihan (olahraga, Kursus-kursus, Kerja Lingkungan)
17.30-18.15 Bersih diri, I’tikaf di masjid
Waktu Maghrib Shalat Maghrib Berjama’ah
Sesudah Maghrib-Isya Belajar Diniyah
Waktu Isya Shalat Isya Berjama’ah
Sesudah Isya-20.30 Makan malam dan belajar tutorial
20.30-22.00 Tadabur lail dan bersiap untuk tidur
22.00-04.00 Tidur

Agenda Mingguan Santri/Santriwati Pesantren Bali Bina Insani
Waktu Kegiatan
Kamis Ba’da Maghrib Hizib Nahdlatul Wathon La-Royba
Kamis Ba’da Isya Latihan Pidato bahasa Arab, Inggris, Indonesia
Jum’at Ba’da Shubuh Ishlahus Shalat
Jum’at Pukul 06.00-07.30 Senam wajib dan Jum’at bersih rapi
Jum’at Pukul 07.30-08.30 I’lan usbu’ al-lughah
2 Minggu sekali Usbu’ al-Arabiyah
2 Minggu sekali English Week
Jum’at Ba’da Ashar Hailalah dan silat
Sabtu Ba’da Ashar Karate
Ahad Ba’da Dhuhur-Qablal Maghrib Pramuka
Ahad Ba’dal Maghrib Barzanji

2. Faktor yang Melatari Pesantren Merekrut Guru Non-Muslim
Dari paparan pada sub sebelumnya, dapat dikatakan bahwa Pesantren Bali Bina Insani termasuk tipe pesantren kombinasi atau campuran (sistem salaf dan modern), karena di dalamnya diberikan pembelajaran materi kitab klasik (kuning) dan juga diberlakukan system klasikal dengan materi yang sejalan dengan kurikulum nasional. Praktik pembelajaran di Pesantren Bali Bina Insani tidak jauh berbeda dengan praktik pembelajaran di pesantren pada umumnya. Akan tetapi ada ciri khas yang unik di pesantren ini, yakni praktik pluralisme dan toleransi yang riil di dalam pesantren. Dimana pesantren ini memiliki beberapa guru yang beragama Hindu.
Beberapa guru yang beragama Hindu di Pesantren bali Bina Insani memang sengaja direkrut untuk mengajar di sekolah formal pada pesantren tersebut. Ada 8 guru beragama Hindu (3 perempuan, 5 laki-laki). Guru-guru non Muslim di pesantren tersebut biasanya diminta mengampu mata pelajaran PKn, IPS dan mata pelajaran umum lainnya. Guru-guru Hindu yang perempuan juga dibiarkan rambutnya terbuka (tidak tertutup oleh kerudung atau jilbab atau hijab lainnya). Pakaiannya juga tidak brukut, hanya memakai baju hem dan celana.
Praktik tersebut sejalan dengan visi dan misi pesantren. Visi Pesantren Bali Bina Insani adalah: “Menjadikan Pondok Pesantren sebagai sumber ilmu pengetahuan, keterampilan dan peradaban dalam rangka mengabdi pada agama, bangsa dan negara”. Sedangkan misinya adalah: a. Membentuk SDM yang unggul, berkualitas, berbudi luhur, berbadan sehat dan berpengetahuan luas; b. Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil `Alamin dalam berbagai aktivitas pengabdian kemasyarakatan; c. Bersahabat dengan semua umat tanpa melihat sekat baik etnis, geografis dan ideologis; d. Menyiapkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara itu, strategi Pondok Pesantren Bali Bina Insani dalam mencapai visi dan misi adalah: Seluruh proses pendidikan dan instrument-instrumennya direncanakan dalam satu pola perencanaan yang cermat, terpadu dan komprehensif, berdasarkan riset, evaluasi, dan masukan-masukan dari berbagai pihak. Rencana Strategis (Renstra) ini disusun setiap tahun dan disosialisasikan secara luas kepada para guru dan santri.
Untuk menumbuhkan sikap toleransi dan pemahaman terhadap budaya dan agama lain, para santri dibiasakan berbaur bahkan dididik oleh guru yang beragama non Muslim, tentu materi yang diampu oleh guru-guru non Muslim adalah materi-materi umum yang tidak ada kaitannya dengan aqidah dan syariah Islam. Hal ini ditujukan untuk memberi variasi kehidupan bagi para santri, juga menuntun mereka memperluas pergaulan dan membuka wawasan mereka terhadap aneka tradisi dan budaya dari guru yang mendidiknya. Dengan sistem ini para santri mempunyai wawasan dan praktik toleransi melalui pengalaman nyata sehari-hari.”
Selain itu, perekrutan guru-guru non Muslim di Pesantren Bali Bina Insani dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi, dimana masyarakat sekitar pesantren mayoritas beragama Hindu, dan Muslim menjadi minoritas. Agar masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Hindu tidak resisten, maka Pesantren Bali Bina Insani mengakomodir keberadaan guru-guru yang beragama Hindu. Bagaimanapun, ini merupakan strategi yang dilakukan oleh Pesantren dalam memelihara keberagaman dan keharmonisan hubungan antar umat beragama (Hindu-Muslim) di daerah sekitar pesantren.
Cara ini cukup efektif, terbukti dari keberadaan pesantren yang tetap dibiarkan tumbuh dan berkembang meski apa adanya. Resistensi dari masyarakat Hindu di sekitar pesantren sesekali masih ada, misalnya, pernah suatu ketika pesantren akan mendapatkan bantuan uang 3 Milyard untuk pembangunan gedung pesantren dari kementerian perumahan; tetapi gagal karena kepala Desa setempat –dimana pesantren berlokasi- yang beragama Hindu tidak bersedia membubuhkan tandatangan di pengantar proposal yang dibutuhkan. Bahkan kepala desa tersebut menggalang dukungan masyarakat sekitar untuk tidak setuju terhadap pembangunan pesantren. Sehingga bantuan dari kementerian perumahan RI batal dicairkan.
Praktik toleransi merupakan perilaku yang dapat menghasilkan sikap yang dapat menjaga kearifan lokal, atau menghasilkan pemikiran (mind) yang berpandangan inklusif dan menghargai perbedaan. Dalam konteks Indonesia, hal itu penting untuk diwujudkan. Indonesia merupakan negara yang tidak saja multietnik dan agama, tetapi juga multikultur. Kemajemukan itu harus dikelola dengan mengembangkan sikap toleransi kepada siapapun, termasuk yang dilakukan oleh Pesantren Bali Bina Insani.
Praktik toleransi juga dilakukan melalui kurikulum pendidikan Pesantren Bali Bina Insani. Keberagaman pemikiran dan ijtihad diajarkan kepada santri tanpa pemaksaan. Sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat sangat dikedepankan oleh Pesantren Bali Bina Insani. Keutamaan pendidikan toleransi di pesantren ini tercermin dari muatan/isi kurikulum yang kental mengajarkan wawasan santri akan keragaman keyakinan. Dalam kelompok bidang studi keagamaan diajarkan materi perbandingan agama yang konten luasnya memaparkan sejarah, doktrin, isme, fenomena dan dinamika keagamaan di dunia. Materi ini sangat substansial dalam pendidikan toleransi, karena santri diberi wawasan berbagai perbedaan mendasar terkait keyakinan agama mereka (Islam) dengan agama-agama lain di dunia. Materi ini sangat potensial membangun kesadaran toleransi keragaman keyakinan yang pasti akan ditemi oleh para santri ketika hidup bermasyarakat.
Para santri memperoleh wawasan keragaman agama, budaya, etnik melalui materi pembelajaran IPS, PKn, dan materi-materi sejenis. Tidak hanya itu, para pengajar materi-materi umum tersebut mayortas adalah orang non Muslim (yakni beragama Hindu), sehingga kemampuan para santri dalam bersikap toleransi tidak sebatas bersifat kognitif, tetapi aplikatif. Karena mereka dalam kelas sudah melakukan praktik toleransi kepada gurunya yang berbeda keyakinan keagamaan dengan dirinya. Apalagi mata pelajaran IPS, PKn akan membawa santri terhadap kesadaran berbangsa dan bernegara dalam bingkai Indonesia. Mata pelajaran ini akan mengantarkan siwa menjadi manusia Indonesia yang ramah, toleran, moderat, dan dapat besikap adil. Intinya, bahwa mata pelajaran ini menjadikan siswa dapat memahami nilai-nilai Pancasila dan mengamalkannya.
Praktik toleransi yang diperoleh santri Pondok Pesantren Bali Bina Insani juga berkiblat kepada tradisi yang sekarang ini ada dan dikembangkan di lingkungan pesantrennya. Misalnya, dari pendiri dan pengasuhnya Ketut Imaduddin dan Saiful Bahri yang melarang para santrinya bersikap primordial. Bahkan ada aturan, kalau keluar pondok pesantren harus melepas songkok yang biasa dipakai di pesantren, agar dapat membaur dengan masyarakat pada umumnya.
Apabila para santri dapat meneladani para pendiri dan pengasuhnya dalam sikap dan pemikirannya, maka akan menjadi manusia yang berpandangan luas, dapat membawa Islam sebagai ajaran rahmatun lil’lamiin, berpaham Islam yang moderat, inklusif, toleran dan intinya menjadi santri yang telah memahami dan menjiwai serta mampu menerapkan nilai-nilai kebaragaman.

E. Penutup
Dari uraian di atas, setidaknya dapat disimpulkan dua hal penting. Pertama, Pesantren Bali Bina Insani termasuk tipe pesantren kombinasi atau campuran (sistem salaf dan modern), karena di dalamnya diberikan pembelajaran materi kitab klasik (kuning) dan juga diberlakukan sstem klasikal dengan materi yang sejalan dengan kurikulum nasional. Praktik pembelajaran di Pesantren Bali Bina Insani tidak jauh berbeda dengan praktik pembelajaran di pesantren pada umumnya. Akan tetapi ada ciri khas yang unik di pesantren ini, yakni praktik pluralisme dan toleransi yang riil di dalam pesantren. Dimana pesantren ini memiliki beberapa guru yang beragama Hindu. Guru-guru yang beragama Hindu di pesantren ini sengaja direkrut untuk mengajar di sekolah formal pada pesantren tersebut. Ada 8 guru beragama Hindu (3 perempuan, 5 laki-laki). Guru-guru non Muslim di pesantren tersebut diminta mengampu mata pelajaran PKn, IPS dan mata pelajaran umum lainnya. Guru-guru Hindu yang perempuan juga dibiarkan rambutnya terbuka (tidak tertutup oleh kerudung atau jilbab atau hijab lainnya). Pakaiannya juga tidak brukut, hanya memakai baju hem dan celana.
Kedua, praktik toleransi dengan merekrut guru-guru non Muslim (Hindu) sejalan dengan visi dan misi pesantren. Visi Pesantren Bali Bina Insani adalah: “Menjadikan Pondok Pesantren sebagai sumber ilmu pengetahuan, keterampilan dan peradaban dalam rangka mengabdi pada agama, bangsa dan negara”; dan sejalan dua misi pesantren, yakni: “Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil `Alamin dalam berbagai aktivitas pengabdian kemasyarakatan” dan “Bersahabat dengan semua umat tanpa melihat sekat baik etnis, geografis dan ideologis”. Faktor lain yang melatarbelakangi praktik toleransi dan keberadaan guru-guru Hindu di pesantren adalah situasi dan kondisi masyarakat sekitar pesantren yang mayoritas beragama Hindu, dan Muslim menjadi minoritas. Agar masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Hindu tidak resisten, maka Pesantren Bali Bina Insani mengakomodir keberadaan guru-guru yang beragama Hindu. Bagaimanapun, ini merupakan strategi yang dilakukan oleh Pesantren dalam memelihara keharmonisan dalam keberagaman dan hubungan antar umat beragama (Hindu-Muslim) di daerah sekitar pesantren. Cara ini cukup efektif, terbukti dari keberadaan pesantren yang tetap dibiarkan tumbuh dan berkembang meski apa adanya.


DAFTAR PUSTAKA

Aboebakar, H., 1957, Sejarah Hidup KH. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar (Jakarta: Panitia Buku Peringatan Alm. KH. A. Wahid Hasyim).
Bruinessen, Martin Van, 2002, “Genealogies of Islamic Radicalism in post-Suharto Indonesia”, Southeast Asia Research, No. 2.
Baehaqi, Imam (ed.), 1999, Kontroversi Aswaja (Yogyakarta: LKiS).
Brosur Pondok Pesantren Bali Insani Yayasan La-Royba, 2015.
Bungin, Burhan, 2001, Metode Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Varian Kontemporer (Jakarta: Raja Grafindo Persada).
Dhofier, Zamakhsyari, 1982, Tradisi Pesantren (Jakarta: Sinar Harapan).
Emzir, 2008, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif (Jakarta: Rajawali Pers).
Faisal, Sanapiah, 2001, Format-format Penelitian Sosial (Jakarta: Raja Grafindo Persada).
Farchan, Hamdan & Syarifudin, 2005, Titik Tengkar Pesantren; Resolusi Konflik Masyarakat Pesantren (Yogyakarta, Pilar Media).
Jawa Pos (Selasa, 21 Juli 2015).
Madjid, Nur Cholish, 1997, Bilik-Bilik Pesntren; Suatu Potret Perjalanan (Jakarata: Paramadina).
Maksum, Ali, 2011, Pluralisme dan Multikulturalisme: Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia (Malang: Aditya Media).
Maksum, Ali, 2015, “Model Pendidikan Toleransi di Pesanatren Modern dan Salaf”, Jurnal PAI (Surabaya: FTK-UINSA, Mei).
Mastuhu, 1994, Dinamika Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS).
Miles & Huberman, 1984, Qualitative Data Analysis (London: SAGE Publications).
Mulkhan, Abdul Munir, 1999, Runtuhnya Mitos Politik Santri, Cet. II (Yogyakarta: Sipress).
Mustaqim, Abd., 2003, “Menggagas Pesantren Transformatif”, Aula, No. 09 Tahun
XXV, September.
Naim, Ngainun dan Achmad Sauqi, 2008, Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media).
Nazir, Mohammad, 2005, Metode Penelitian (Bogor: Ghalia Indonesia).
Profil Pondok Pesantren Bali Bina Insani Yayasan La Royba (Kamis, 17 November 2011).
Qomar, Mujamil, 2002, NU Liberal; Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam (Bandung: Mizan).
Rodger, Alex R., 1982, Educational and Faithin Open Society (Britain: The Handel).
Saridjo, Marwan, 1980, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia (Jakarta: Dharma Bhakti).
Suprayogo, Imam, 2007, Kyai dan Politik: Membaca Citra Politik Kyai (Malang: UIN Malang Press).
Wahid, Abdurahman, 1988, Menggerakkan Tradisi, Esai-Esai Pesantren (Yogyakarta: LKiS).
Wijdan, Ade, SZ. Dkk., 2007, Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Safiria Insania Press).

Sumber Lapangan:
Observasi pada 26 Mei 2015.
Purnomo (Wakasis MTs. Bali Bina Insani), Wawancara pada 26 Mei 2015, Pukul 11.15 WITA.
Usbani (Waka Sarana-Prasrana), Wawancara pada 26 Mei 2015, Pukul 12.00 WITA.
Yuli Saiful Bahri (Kepala Sekolah MTs. Bali Bina Insani), Wawancara pada 26 Mei 2015, Pukul 11.00 WITA.

Sumber Internet:
http://yayasanlaroyba.blogspot.com/2011/11/profil-pondok-pesantren-bali-bina.html, Diakses pada 21 Juli 2015.
Syafruddin Amir, Pesantren Pembangkit Moral Bangsa.(Online) (http:// www.pikiran-
rakyat.com/cetak/2006/072006/03/11wacana01.htm-28k-, diakses tanggal 15 April 2015).