BALI BINA INSANI Toleransi Beragama Pondok Pesantren di Bali

8 Juli 2017 Fajri Zulia Opini, Pendidikan, Sosial Budaya 0

Source : Liputan6.com

Siapa yang tak mengenal Bali. Pulau Bali dikenal sebagai lokasi pariwisata yang dikunjungi tidak hanya oleh wisawatan domestik namun juga wisatawan mancanegara. Keunikan Bali tidak hanya menyoal kepada keindahan pantainya, namun juga pada harmonisnya umat beragama di Bali. Bali merupakan daerah dengan mayoritas masyarakat beragama Hindu. Meskipun demikian, masyarakat Bali memperlakukan secara baik masyarakat yang beragama lain, Islam misalnya.

Pondok Pesantren Bali Bina Insani adalah salah satu bukti keberagaman dan toleransi di Bali. Pondok pesantren ini terletak di Desa Meliling, Kecamatan Krambitan, Tabanan. Jika akan menuju lokasi pondok, tak seorang pun akan mengira di tengah masyarakat adat Hindu terdapat pondok pesantren yang telah berdiri sejak tahun 1991.

Pondok Pesantren Bali Bina Insani memiliki 2 lembaga pendidikan formal yaitu MTs (Madrasah Tsanawiyah) Bali Bina Insani dan MA (Madrasah Aliyah) Bali Bina Insani. Dengan dua lembaga formal tersebut, terdapat jumlah 52 guru dimana 16 diantaranya beragama Hindu. Guru yang beragama Hindu diberikan kesempatan untuk mengajar mata pelajaran umum seperti IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), Ekonomi, hingga Olahraga. Bahkan Pos Kesehatan Pesantren (PosKestren) pernah memiliki staff seorang bidan yang juga beragama Hindu. Pondok ini memberikan kesempatan yang sama untuk siapapun, baik yang beragama Hindu untuk dapat mengajar dan berinteraksi secara aktif kepada civitas akademika pondok pesantren Bali Bina Insani. Hal ini, menumbuhkan toleransi positif dikalangan santri Bali Bina Insani.

Keunikan Pondok Pesantren Bali Bina Insani atas harmonisasi yang terjalin antara hubungan sosial antara masyarakat sekitar dan santri, membawa pondok ini menjadi dikunjungi pada kegiatan Bali Democracy Forum 2016. Bali Democracy Forum adalah forum kerjasama tahunan negara-negara demokrasi di Asia yang diadakan setiap bulan Desember di Bali, Indonesia. (Sumber : Wikipedia). Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Ktut Imaduddin Dmajal ini pada hari raya Nyepi akan meliburkan dan membiarkan santri untuk kembali ke rumahnya. Hal ini dilakukan agar masyarakat Hindu sekitar pesantren dapat dengan khidmat melaksanakan hari rayanya.